+ -

Pages

Monday, July 8, 2013

Ulil Amri yang memelihara ketersesatan

Selalu menyedihkan, ketika setiap tahunnya pemerintah yang seharusnya berperan sebagai ulil amri, justru memelihara kebodohan, ketersesatan. 

Seingat saya baru tahun ini, televisi secara terbuka memberikan reportase langsung dari pelaksanaan sidang isbat. Sidang yang menurut saya tidaklah lebih dari sebatas forum formalitas.Sidang yang jauh sekali dari nilai-nilai subsansial itu sendiri. He, masih ingat sekali tahun kemarin, televisi menayangkan bagaimana seorang ulama beradu pendapat dengan ulama lainnya yang berbeda ormas. Bahkan tidak jarang diantaranya melemparkan bahasa-bahasa yang tidak sepatutnya di sampaikan. Bahasa yang kemudian malah memberikan ruang debat bagi para pendengar televisi.

Haruskah mereka beradu metode, keyakinan dan sumber daya apa saja, hingga pada akhirnya harus di akui secara absolut bahwa ia paling benar? Lalu ditempat manakah kebersamaan beragama disimpan hingga ia menjadi bias yang tidak begitu penting.

Pada akhrinya, seperti dalam Quran Surat An-Nisaa ayat 59, 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. an-Nisaa’: 59)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan: Yang dimaksud dengan ulil amri adalah orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati yaitu penguasa dan pemerintah. Penguasa atau pemerintah yang dalah hal ini menjalankan amanah dengan baik. Pemerintah yang dengan tegas meyakinkan mana benar dan salah. Selanjutnya, menjadi pertanyaan adalah, sudah pantaskah pemerintah di Indonesia ini di sebut Ulil Amri?



5 Samudera: Ulil Amri yang memelihara ketersesatan Selalu menyedihkan, ketika setiap tahunnya pemerintah yang seharusnya berperan sebagai ulil amri, justru memelihara kebodohan, ketersesatan...
< >