+ -

Pages

Monday, April 22, 2013

Linierisasi Idealisme dan Relisme

Jauh dari saat ini, dan waktu dimana pada saat itu, saya menikmati bagaimana berlingkungan dengan sejawat di SMA. Disana saya mengenal sahabat, yang entah mengapa saya baru memahaminya sekarang, bagamana ia bisa bertahan dengan sifatnya yang secara jujur saya akui itu sangat sulit saya temukan pada saat itu. Apa itu? 

Dia adalah teman yang selalu berpegang teguh pada hal-hal yang ia yakini. Dalam bahasa yang lebih sederhana saya contohkan seperti ini: pada setiap kesempatan, ia selalu menjadikan ilmu lebih penting ketimbang hasil-hasil yang ia dapatkan di bangku sekolah, ia tidak merasa, nilai begitu penting baginya. Dia selalu percaya bahwa keyakinan dalam dirinya lebih penting daripada menjadi bagian dari kebiasan lingkungan.

Dalam tulisan ini, sebenarnya saya hanya berusaha untuk berbagi pemikiran, tentang fakta-fakta yang sebenarnya kerap terjadi terhadap kita. Sahabat yang saya ceritakan sebelumnya, adalah orang yang saya nilai seorang yang memiliki kecenderungan idealis. dan bukan sebaliknya, yakni seorang realis.

Berbicara mengenai idealis dan realis, tentu bukan bertujuan membandingkan, atau bahkan menilai konotasi dari kedua "sifat" tersebut. Idealisme berbicara suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu, tapi juga hingga ke tingkat negara. Nilai-nilai idealisme yang mempengaruhi individu contohnya adalah keyakinan mengenai pola hidup, nilai-nilai kebenaran, gaya mengasuh anak, karir dan lain sebagainya. Sedangkan idealisme pada tingkatan negara adalah seperti Ideologi Pancasila, komunisme, liberalism dan masih banyak lagi.

Sedangkan realisme adalah suatu sikap/pola pikir yang mengikuti arus. Individu yang realistis cenderung bersikap mengikuti lingkungannya dengan mengabaikan beberapa/semua nilai kebenaran yang dia yakini. Sama dengan idealisme, realisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa dan pikiran seseorang.

Realisme-pun tidak hanya terbatas pada individu, tapi juga pada level-level diatasnya hingga ke tingkat negara. Nilai-nilai realisme yang mempengaruhi individu pada umumnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan materi. Namun tidak tertutup kemungkinan juga pada hal-hal lain seperti budaya politik, norma reliji (sistem kepercayaan) dan banyak hal-hal lainnya.

Jika kembali pada waktu dimana saat ini saya berdiri, saya sangat menyadari bahwa kedua hal tersebut sangat menjadi bagian dari bagaimana saya mengambil keputusan, bagaimana saya mengambil resiko. Realis dan idealis berada pada satu garis linier yang tidak dapat terpisahkan. Dan setiap orang dari kita pasti berdiri diantara keduanya, fokusnya adalah kecenderungan. Berada dekat dengan kutub manakah kita/saya?

Seperti sepakbola, ingatkah saat Inter Milan dapat meruntuhkan dominasi Barcelona di semifinal Liga Champion 2010? Saat itu Inter Milan melakukan strategi Parkir Bus di Camp Nou. Tidak sedikit pengamat sepak bola yang setuju bahwa itu adalah permainan yang cenderung pragmatis, atau dengan kata lain mengabaikan nilai-nilai seni permainan sepak bola itu sendiri. Pragmatisme dalam sepak bola itu sah-sah saja, karena toh, hasil akhirlah yang menjadi patokan. Tapi sepak bola terlalu hambar jika terlalu mengabaikan keindahan, kemampuan, dan mencederai daya tarik sepak bola itu sendiri.

Dari sana saya ingin menyampaikan bahwa, pragmatisme dalam sepak bola, seperti layaknya seorang yang realis, tidak fokus pada proses, cenderung mementingkan hasil. Dan sebaliknya, dengan tim-tim yang masih menganggap sepakbola sebagai bagian dari seni, maka ia layaknya seorang yang idealis. 

Jadi pada kenyataannya, sikap idealis dan realis bukanlah suatu hal yang saling berkontradiktif. Justru sebaliknya, kedua hal itu harus selaras berjalan dalam pikiran dan sikap kita agar hidup selalu mengalami progresifitas. Keseimbangan antara idealisme dan realism dapat menghasilkan output yang tentunya lebih baik daripada hanya condong ke satu sisi saja.

5 Samudera: Linierisasi Idealisme dan Relisme Jauh dari saat ini, dan waktu dimana pada saat itu, saya menikmati bagaimana berlingkungan dengan sejawat di SMA. Disana saya mengenal sahab...
< >